1. Ditemukannya Kertas
Dengan di temukannya kertas maka manusia dengan mudah menulis dan ringan di bawa kemana saja. Coba kita bayangkan seandainya kita masih menulis di atas batu, kulit binatang, Kulit kayu ataupun di atas daun. Betapa ribetnya kita akan menulis, harus mengeringkan atau melakukan ini dan itu. Serta susah di bawa kemana saja.
2. Ditemukannya mesin Pengganda (Cetak)
Sebuah tulisan yang menjadi sebuah buku, di dalam beragam informasi. Bisa ga kita bayangkan? saat tidak mesin pencetak yang mampu menggandakan sebuah buku atau tulisan. Bagaimana susahnya menggandakan buku, bagaimana jika kita harus menulis ulang? Hayo.....sapa sanggup. he...he.....
3. Ditemukannya Searching Engine bernama GOOGLE.
Saat anda ingin mencari sesuatu artikel, berita atau anda kesulitan tentang sesuatu. Tinggal anda cari ? maka anda akan segera mendapatkan jawabannya segara pilihan. Bahkan hebatnya lagi Google akan segera menjawab dan mengatakan sesuatu jika kata kunci yang anda cari tidak tersedia.
Rabu, 03 Juni 2015
Minggu, 31 Mei 2015
AKU ,HP DAN KESADARANKU.
Sadar atau tidak, berapa kali aku buka HP setiap hari? 10x, 15x, atau 20x dalam sehari. atau mungkin kita punya kebiasaan membuka HP untuk melihat BBM, WA atau SMS lebih dari 50 x tanpa kita sadari. Gadget sekarang menjadi bagian penunjang sarana kita untuk mobile, dengannya kita bisa mendapat informasi apapun dengan cepat dan kita bisa menemukan siapapun dengan gadget tersebut.
HP seakan telah menjadi bagian dari diri kita, saat tak membawanya kita begitu bingung dan merasa galau.
Semoga kejadian tadi malam menggugah kesadaranku, semoga kejadian itu merupakan bentuk kasih sayang Rabbku kepadaku.
19.30 WIB, habis pulang liburan sekolah ke pantai kartini rembang. Anakku belum makan nasi, hanya meminum susu bantal. sebagai orang tua, aku ingin anakku menjaga pola makannya, agar kondisi cuaca yang sekarang ini tidak terlalu berpengaruh padanya.
Mungkin seorang anak hanya memikirkan apa yang dia inginkan, apa yang dia senangi, walau akhirnya berujung pada sakit. Hal yang menyedihkan bagi orang tua adalah melihat anaknya jatuh sakit, tapi sebagai orang tuapun kadang kita melakukan tindakan bodoh. Kita ingin menyenangkan anak dengan membelikan sesuatu, padahal kita tahu bahwa itu akan menyebabkan anak kita sakit.
Atas nama ketidak tegaan, ketidak berdayaan kita memberikan apa yang anak minta, lalu....saat sakit kemudian kita marah kepada anak kita. Sebenarnya siapa yang salah ? anak yang belum mampu berpikir atau orang tua dengan keegoisannya?
Ketika ditawari friedChicken pa bakso, anakku memilih bakso.
Baksopun di lahap sambil nonton moto GP, sementara istriku menantap mie ayam dan aku lebih tertarik minum yang hangat karena tenggorokanku sakit. sambil memainkan hp hanya sekedar browsing. Karena tidak habis, terpaksa aku mengeksekusi dan meletakkan hp di meja.
Kamipun pulang, dan tidur.
Jam. 2 malam aku terbangun saat anakku minum. Shalat malam aku coba dirikan, kuatkah aku?
Rasanya remuk tubuh ini, rotasi bumipun begitu kentara. aku hanya ingin terus bangkit, setidak aku hanya ingin sekedar bisa bersyukur. toh, kalau ini saat terakhir akan menjadi catatan penutup yang manis.
Pada rekaat pertama, terdengar manis di telingaku ". HP...".
Astagfiruallah, iya hpku tertinggal di warung bakso. selesai rekaat kedua aku mencari hpku, iya...tak ada.
aku teruskan hingga 6 rekaat, sungguh aku ingin melanjutkan kesebelas rekaat tapi.....aku takut ini sebuah bisakan yang akan melalaikanku saat subuh.
Kututup aktifitasku dengan berdoa:
" Ya...Allah, maafkanlah kebodohanku, maafkanlah kehinaanku. Ya rabb....HP hanya itu begitu PENTING BAGIKU DAN MENURUTKU. Tapi Engkau yang Maha Tahu. Maafkanlah dosaku, Kedua Orangtuaku, istri dan anakku, saudaraku, tetanggaku, teman temanku dan orang yang menyayangiku dan hasad terhadapku.
YAa Allah Engkau Maha Tahu apa yang terjadi, jika HP itu menjadi penyebabku lalai kepadaMU tentu Engkau lebih Tahu dan mohon ganti dengan yang lebih baik dan jauhkan kami bencana dan balak.
Ya...Rabb aku hanya ingin mengeluh padaMU, aku tidak ingin bersandar pada hambaMU. dan hamba berharap HP itu menjadi perkara yang baik dengan kembali kepada kembali kepada Hamba.
amin.".
HP seakan telah menjadi bagian dari diri kita, saat tak membawanya kita begitu bingung dan merasa galau.
Semoga kejadian tadi malam menggugah kesadaranku, semoga kejadian itu merupakan bentuk kasih sayang Rabbku kepadaku.
19.30 WIB, habis pulang liburan sekolah ke pantai kartini rembang. Anakku belum makan nasi, hanya meminum susu bantal. sebagai orang tua, aku ingin anakku menjaga pola makannya, agar kondisi cuaca yang sekarang ini tidak terlalu berpengaruh padanya.
Mungkin seorang anak hanya memikirkan apa yang dia inginkan, apa yang dia senangi, walau akhirnya berujung pada sakit. Hal yang menyedihkan bagi orang tua adalah melihat anaknya jatuh sakit, tapi sebagai orang tuapun kadang kita melakukan tindakan bodoh. Kita ingin menyenangkan anak dengan membelikan sesuatu, padahal kita tahu bahwa itu akan menyebabkan anak kita sakit.
Atas nama ketidak tegaan, ketidak berdayaan kita memberikan apa yang anak minta, lalu....saat sakit kemudian kita marah kepada anak kita. Sebenarnya siapa yang salah ? anak yang belum mampu berpikir atau orang tua dengan keegoisannya?
Ketika ditawari friedChicken pa bakso, anakku memilih bakso.
Baksopun di lahap sambil nonton moto GP, sementara istriku menantap mie ayam dan aku lebih tertarik minum yang hangat karena tenggorokanku sakit. sambil memainkan hp hanya sekedar browsing. Karena tidak habis, terpaksa aku mengeksekusi dan meletakkan hp di meja.
Kamipun pulang, dan tidur.
Jam. 2 malam aku terbangun saat anakku minum. Shalat malam aku coba dirikan, kuatkah aku?
Rasanya remuk tubuh ini, rotasi bumipun begitu kentara. aku hanya ingin terus bangkit, setidak aku hanya ingin sekedar bisa bersyukur. toh, kalau ini saat terakhir akan menjadi catatan penutup yang manis.
Pada rekaat pertama, terdengar manis di telingaku ". HP...".
Astagfiruallah, iya hpku tertinggal di warung bakso. selesai rekaat kedua aku mencari hpku, iya...tak ada.
aku teruskan hingga 6 rekaat, sungguh aku ingin melanjutkan kesebelas rekaat tapi.....aku takut ini sebuah bisakan yang akan melalaikanku saat subuh.
Kututup aktifitasku dengan berdoa:
" Ya...Allah, maafkanlah kebodohanku, maafkanlah kehinaanku. Ya rabb....HP hanya itu begitu PENTING BAGIKU DAN MENURUTKU. Tapi Engkau yang Maha Tahu. Maafkanlah dosaku, Kedua Orangtuaku, istri dan anakku, saudaraku, tetanggaku, teman temanku dan orang yang menyayangiku dan hasad terhadapku.
YAa Allah Engkau Maha Tahu apa yang terjadi, jika HP itu menjadi penyebabku lalai kepadaMU tentu Engkau lebih Tahu dan mohon ganti dengan yang lebih baik dan jauhkan kami bencana dan balak.
Ya...Rabb aku hanya ingin mengeluh padaMU, aku tidak ingin bersandar pada hambaMU. dan hamba berharap HP itu menjadi perkara yang baik dengan kembali kepada kembali kepada Hamba.
amin.".
Jumat, 29 Mei 2015
Lamaran Ditolak, Pemuda Ini Pun Nekat Menghafal Al-Quran
Beberapa yang lalu seorang temen kirim artikel sebagai berikut:
Niat baik tidak selamanya dianggap baik, mungkin inilah yang dialami seorang pemuda yang tinggal di pelosok sebuah desa di daerah Bekasi.
Daud Dzal Aidi, begitulah nama lengkap pemuda tersebut, seperti sebuah nama nabi yang tercantum di dalam Al-Quran pada surat Shad [38] ayat 17, “Daud yang memiliki kekuatan”.
Orang tua Daud bukan seorang ulama, tapi kedua orang tuanya cinta terhadap ulama, nama anaknya itu pun adalah sebuah pemberian dari seorang ajengan yang alim dan hafizh di daerah Garut.
Daud adalah seorang pemuda yang polos, bisa dikatakan belum banyak terinfeksi pergaulan bebas anak muda zaman sekarang. Daud pun tidak terbiasa bergaul dengan lawan jenis terlalu jauh, hanya sekadar muamalah biasa.
Namun ternyata Daud memendam perasaan terhadap seorang wanita yang pernah ditemuinya sekilas dalam acara seminar remaja Islam di Jakarta, Fatimah namanya, kebetulan Daud menjadi panitianya dan Fatimah yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Daud terkesan dengan suara indah dan lengkingan ayat-ayat yang dibacakan oleh Fatimah seakan sudah menguasai betul nagham dalam ilmu tilawah, mulai dari bayati, shoba, hijaz dan sebagainya.
***
Singkat cerita tiga bulan kemudian, Daud rupanya sudah ada niat ingin melamar Fatimah, sinyal cinta itu timbul begitu saja, percakapan seperlunya pun hanya melalui pesan singkat sms.
“Fatimah, saya mau silaturahim ke rumah orang tua kamu, boleh saya minta alamat lengkapnya, maaf jika kurang berkenan,” setelah berpikir panjang dengan kata-katanya akhirnya sms itu terkirim juga.
“Iya kak, silakan datang saja, rumah orang tua saya yang bercat putih percis di dekat gerai batik, atau tanya saja di mana rumah Bapak Ahmad Mubarak, insya Allah semua tahu.” Balas Fatimah dengan perasaan penuh harap dan cemas.
Setelah mencari sana-sini bersama kawan akrabnya, Amir, Daud pun akhirnya sampai juga di kediaman orang tua Fatimah di bilangan Jakarta. Dengan sedikit perasaan tegang karena pengalaman pertama menghadap orang tua calon belahan jiwa yang ingin dilamar, sebagai sahabat Amir pun langsung menyejukkan suasana agar Daud tetap tenang dan santai.
Masuklah mereka setelah diizinkan oleh tuan rumahnya, kemudian bersalaman kepada bapak dan ibunya Fatimah, obrolan pun dimulai dan inilah yang terkenang.
“Fatimah sudah banyak cerita tentang kamu, ayah pun paham kondisi kejiwaannya ketika dia menyukai sesuatu yang diinginkan, dan ngambeknya dia ketika keinginannya tidak tercapai, tapi dia lebih dewasa dari kakaknya, Aisyah.” Ujar ayah Fatimah dengan penuh wibawa menjelaskan tentang tabiat dan sedikit kepribadian anak perempuannya itu.
“Iya pak, maksud kedatangan saya pun ke sini untuk silaturahim dan juga ada niat ingin mengkhitbah Fatimah putri bapak, itu pun jika belum ada yang taqdim (mengajukan lamaran), mohon maaf bila kurang berkenan dan terkesan kurang sopan, jika diterima saya akan langsung bicara ke orang tua saya di kampung untuk mengadakan proses khitbah secara resmi,” Daud pun menjelaskan maksud kedatangannya hendak melamar Fatimah. Meski agak sedikit gugup, namun Daud akhirnya merasa plong.
“Maaf ya Daud, ibu bukannya tidak percaya sama kamu, ibu cuma khawatir bagaimana nanti kehidupan rumah tangga anak ibu jika kamu sendiri belum memiliki pekerjaan tetap. Sebenarnya ibu pun sudah punya calon untuk Fatimah, putranya kawan ibu yang kebetulan masih satu kantor sama bapak, dia sudah siap segalanya.” Sang ibu langsung memotong pembicaraan karena sudah tahu di mana keluarga Daud tinggal, yaitu di kampung pedesaan.
Daud paham dan sadar bahwa dirinya bukanlah anak orang berada, sebenarnya Daud pun tidak mengetahui sebelumnya kalau ternyata Fatimah anak seorang pejabat yang disegani.
“Iya bu, saya paham kondisi saya sekarang, tapi saya tetap berusaha memiliki pekerjaan yang halal dan baik, tentunya saya pun merasa nyaman dengan pekerjaan itu, tidak gelisah. Saya berterima kasih kepada ibu dan bapak karena sudah menerima saya untuk bersilaturahim, saya mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu waktu ibu dan bapak.”
Daud pun pamit kepada kedua orang tua Fatimah, sebelum meninggalkan rumah, ayahnya Fatimah menghampiri Daud di pintu gerbang rumahnya, beliau berkata kepada Daud,
“Nak, ayah sangat bangga kepadamu atas keberanian kamu hendak melamar Fatimah, ayah sebenarnya setuju saja jika kamu nantinya menjadi imam buat Fatimah, rasanya baru kemarin ayah mengasuh dan mendidiknya, ternyata Fatimah sekarang sudah dewasa. Maaf ya nak, ayah tidak tahu kalau ternyata ibu sudah mempunyai calon suami buat Fatimah. Kamu harus menjadi lelaki yang kuat, tetap berikhtiar, dan tentunya harus menyertakan Allah dalam setiap keputusanmu, ayah doakan kamu mendapatkan calon istri yang terbaik.”
Nasihat ayah Fatimah yang cukup bijak.
“Terima kasih pak, semoga putri bapak juga mendapatkan calon suami yang bisa membimbing Fatimah dalam mahligai pernikahan yang diridhai Allah ta’ala.”
Daud pun mencium tangan ayah Fatimah sebagai rasa takzim kepadanya dan langsung berpamitan.
“Kak, maafkan Fatimah dan kedua orang tua Fatimah jika silaturahim kakak jadi kurang berkesan, Fatimah tidak tahu jika ibu ingin menjodohkan Fatimah dengan orang lain. Fatimah akan bicara ke ibu kalau Fatimah tidak mau dijodohkan. Kak, besok Fatimah mau kembali ke KL, melanjutkan kuliah. Doakan Fatimah.”
Fatimah langsung mengirimkan sms ke Daud, ia merasa sangat khawatir jika Daud kecewa.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak ada yang salah, justru saya yang mohon maaf. Ikuti saja nasihat ibu, beliau tahu mana yang baik untuk anaknya, jangan mengikuti hawa nafsumu. Kakak doakan semoga perjodohan itu bisa membuat kamu lebih fokus dalam belajar karena sudah jelas tujuan hidupnya.” Tutup Daud seraya mendoakan yang terbaik untuk Fatimah.
***
Hari berganti hari, tepat pada hari Sabtu pagi setelah shalat subuh, terlihat Daud khusuk mendengarkan pengajian tafsir di sebuah masjid raya kota Bekasi yang dipimpin ustad Abdul Hakim. Ustad Abdul Hakim adalah seorang imam besar yang sangat masyhur keahliaannya dalam bidang tafsir Al-Quran, beliau lulusan Al-Azhar Mesir, tak aneh bila setiap ada jadwal kajian masjid selalu penuh, banyak jamaah dari jauh yang juga sengaja datang untuk mendapatkan pencerahan ilmu dan hikmah darinya.
“وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Ayat 32 dari surat An-Nur ini adalah anjuran untuk menikah, maksudnya, hendaklah laki-laki yang belum menikah atau tidak beristri atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat menikah.
Oleh karena itu, anggapan bahwa apabila menikah seseorang dapat menjadi miskin karena banyak tanggungan tidaklah benar. Dalam ayat ini terdapat anjuran menikah dan janji Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka yang menikah untuk menjaga dirinya.
Allah mengetahui siapa yang berhak mendapat karunia agama maupun dunia atau salah satunya dan siapa yang tidak, sehingga Dia berikan masing-masingnya sesuai ilmu-Nya dan hikmah-Nya.
Jika sudah siap lahir bathin, segeralah menikah!
Bagi yang belum mampu, Allah telah menjelaskan pada ayat setelahnya. Allah memerintahkan kepada kita untuk menjaga kesucian diri dan mengerjakan sebab-sebab yang dapat menyucikan diri, seperti mengalihkan pikiran dengan menyibukkan diri dalam kegiatan positif dan melakukan saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu berpuasa.”
Demikian salah satu isi kajian ustad Abdul Hakim yang dibawakan dengan penuh kewibawaan dan retorika yang lantang.
Ternyata tema pembahasan tafsir kali ini sangat menyentuh hati dan perasaan Daud, dia terpana dengan penggalan ayat ini, “Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya”.
Setelah pengajian usai, Daud pun langsung menghampiri sang ustad, rupanya dia ingin bicara empat mata seraya mencurahkan masalah dan ujian hidup yang dialaminya agar diberikan solusi yang tepat dan mencerahkan.
Akhirnya Daud diajak ke kamar khusus imam di lantai 2 masjid. Dengan panjang lebar Daud bercerita tentang semua hal yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, tak terasa air mata Daud pun berlinang.
“Mas Daud, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah masa lalu dan tidak mampu menggambarkan masa depan dengan gambaran yang kita kehendaki, lalu mengapa kita bunuh diri sendiri dengan bersedih atas apa yang kita tak mampu mengubahnya??!!
Bersabarlah dengan skenario Allah yang indah.”
Banyak kata-kata hikmah yang keluar dari lisan keikhlasan sang ustad, akhirnya Daud bertekad ingin bangkit kembali, bangun dari tidur yang panjang.
Ada satu azzam Daud yang sungguh luar biasa, yaitu ingin mengkhatamkan hafalan Al-Quran 30 juz dan memohon kepada ustad Abdul Hakim untuk mendengarkan hafalannya sampai tuntas, karena hatinya bergetar ketika sang ustad menyarankan untuk menghafal Al-Quran, sebab Al-Quran merupakan obat dari berbagai macam penyakit.
Air mata Daud pun langsung terurai menetes ketika ustad Abdul Hakim membacakan sebuah hadis keutamaan seorang penghafal Al-Quran yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya,
“Dari Buraidah al-Aslami Ra., ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Pada hari kiamat nanti, Al-Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al-Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya, ‘Apakah Anda mengenalku?’ Penghafal tadi menjawab, ‘Saya tidak mengenal kamu.’ Al-Quran berkata, ‘Saya adalah kawanmu, Al-Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya, setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.’ Maka, penghafal Al-Quran tadi diberi kekuasaan di tangan kanannnya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya, ‘Kenapa kami diberi pakaian begini?’ Kemudian dijawab, ‘Karena anakmu hafal Al-Quran.’ Kemudian, kepada penghafal Al-Quran tadi diperintahkan, ‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya.’ Maka, ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil).”
***
Setelah melewati masa-masa sulit dalam menghafal Al-Quran, alhamdulillah akhirnya Daud dapat mengkhatamkan hafalan Al-Quran dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun.
Ustad Abdul Hakim merasa bangga dan terharu atas kegigihan dan kesungguhan Daud, ustad Abdul Hakim pun memberikan sanad hafalannya ke Daud dan berpesan kepada Daud yang dikutip dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh imam Bukhari,
“Jagalah Al-Quran, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Quran itu lebih cepat lepas dari pada seekor onta dari ikatannya.” Sungguh nasihat yang penuh makna.
Setelah itu giliran Daud yang ingin diajak bicara empat mata oleh ustad Abdul Hakim, rupanya ada satu hal penting lagi yang ingin disampaikan sang ustad berkaitan dengan jodoh.
“Mas Daud, maaf jika ini menyinggung perasaan mas Daud. Ada orang tua yang datang kepada saya, kebetulan masih jamaah saya juga, namanya bapak Abdullah, seorang pemimpin perusahaan elektronik di Jakarta, Ph.d lulusan Amerika, dia memiliki 3 putri cantik, dia ingin minta dicarikan calon suami untuk anaknya, kriterianya hanya bisa membimbing putrinya dalam hal agama, menjadi imam yang baik buat putrinya.” Dengan penuh kehati-hatian ustad Abdul Hakim menyampaikannya, tapi tetap dengan kekhasan senyuman di wajahnya yang bersinar.
“Sebelumnya saya berterima kasih karena ustad sudah menyampaikan hal itu, tapi saya mohon maaf, bukan saya menolak, tapi saya takut tidak bisa mengikuti keinginan yang biasa keluarga dia lakukan, karena saya terbiasa hidup sederhana dan memang dari keluarga sederhana.” Jawab Daud juga dengan rona wajah takut mengecewakan perasaan guru ngajinya itu.
“Ya sudah, sekarang kamu istikharah, jangan lupa hal ini diberitahu ke orang tuamu di kampung.” Demikian nasihat Ustad Abdul Hakim kepada Daud.
“Insya Allah, ustad.” Tutup Daud.
***
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Akhirnya Daud pun menemukan belahan jiwanya, putri bungsu bapak Abdullah, Nourhan Abdullah. Putri bungsu yang manja dan ceria, lulusan Psikologi Universitas Indonesia, itulah bidadari surga yang dipersunting Daud menjadi istrinya.
Kini hidup Daud penuh keberkahan, dia memimpin sebuah pesantren tahfizh modern di Bogor, yang juga mempelajari sains dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).
Pesantren Al-Quran dan Teknologi Fakhruddin Ar-Razi, Daud mengambil berkah dari nama seorang ulama yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh pada masanya itu. Ia menguasai berbagai disiplin keilmuan baik di bidang ilmu-ilmu sosial maupun bidang ilmu-ilmu alam (eksakta). Ar-Razi juga seorang sastrawan, penyair, ahli fiqh, ahli tafsir, ahli hikmah, ahli ilmu kalam, seorang dokter medis dan sebagainya. Sehingga tidak diragukan lagi banyak para ilmuwan yang belajar kepada beliau baik para ilmuwan dalam negeri maupun para ilmuwan luar negeri.
***
Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah, “Kalau datang kepadamu seorang laki-laki yang kamu sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah. Kalau tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” Demikian pesan nabi Muhammad Saw. kepada para orang tua, khususnya yang memiliki putri yang belum menikah.
Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah, “Kalau datang kepadamu seorang laki-laki yang kamu sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah. Kalau tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” Demikian pesan nabi Muhammad Saw. kepada para orang tua, khususnya yang memiliki putri yang belum menikah.
Sangat wajar bila para orang tua memiliki kekhawatiran terhadap nasib anak-anak mereka di masa mendatang, khususnya anak perempuan. Namun Rasulullah Saw. telah memberikan petunjuk dalam memilihkan jodoh untuk anak perempuan. Kuncinya ada dua: agama dan akhlak, karena agama tanpa akhlak akan cacat, sedangkan akhlak tanpa agama percuma.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/22/58763/lamaran-ditolak-pemuda-ini-pun-nekat-menghafal-al-quran/#ixzz3bafbB9eY
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Seorang ibu yang berhasil mencetak keluarga Qur’any
Beberapa hari yang lalu lewat What Apps, seorang teman mengirim artikel sebagai berikut ;
Kisah ini disampaikan oleh seorang pengajar Al-Qur’an Al-Karim di salah satu masjid di Makkah Al-Mukarramah. Ia berkata,”telah datang padaku seorang anak yang ingin mendaftarkan diri dalam halaqah”. Maka aku bertanya kepadanya,”Apakah engkau hafal sebagian dari Al-Qur’an?”. Ia berkata,”Ya”. Aku berkata kepadanya, ”Bacakan dari juz ‘Amma!” Maka kemudian ia membacanya. Aku bertanya lagi ,”apakah kamu hafal surat tabaarak (Al-Mulk)?” Ia menjawab,”Ya”. Aku pun takjub dengan hafalannya di usia yang masih dini. Aku bertanya kepadanya tentang surat An-Nahl. Ternyata ia hafal juga, maka semakin bertambah kekagumanku atasnya.
Kemudian aku ingin mengujinya dengan surat-surat panjang, aku bertanya,”Apakah engkau hafal surat Al-Baqarah. Ia menjawab,”Ya”. Dan ia membaca surat tersebut tanpa salah sedikitpun. Kemudian aku berkata,”Wahai anakku, apakah kamu hafal Al-Qur’an?” ia menjawab,”ya”. Subhanallah, dan apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi!. Aku memintanya untuk datang esok hari bersama dengan orang tuanya, sedangkan aku sungguh benar-benar takjub. Bagaimana mungkin bapaknya melakukan hal tersebut?!
Suatu kejutan besar ketika bapak anak tersebut hadir. Aku melihat penampilannya tidak menunjukkan orang yang komitmen kepada As-Sunnah. Segera ia berkata kepadaku,”Saya tahu anda heran kalau saya adalah ayahnya, tapi saya akan menghilangkan rasa keheranan Anda. Sesungguhnya dibelakang anak ini ada seorang wanita yang setara dengan seribu laki-laki. Aku beritahukan kepada Anda, bahwa aku dirumah memiliki tiga anak yang semuanya hafal Al-Qur’an. Dan anakku yang paling kecil, gadis berusia 4 tahun, sudah hafal juz ‘amma”. Aku kaget dan bertanya,”Bagaimana bisa seperti itu?!” Ia mengatakan bahwa ibu mereka ketika mereka mulai bisa berbicara pada usia bayi, maka ia memulainya dengan menghafalkan Al-Qur’an dan memotivasi mereka untuk itu. Siapa yang menghafal pertama kali, maka dialah yang berhak memilih menu untuk makan malam hari itu. Siapa yang melakukan muraja’ah (setor hafalan) pertama kali, dialah yang berhak memilih kemana kami akan pergi mengisi liburan mingguan. Dan siapa yang mengkhatamkan pertama kali, maka dialah yang berhak menentukan kemana kami harus mengisi liburan.
Seperti inilah istriku menciptakan suasana kompetisi (persaingan) dalam menghafal dan melakukan muraja’ah. Ketika merenungkan dan memikirkan kisah yang penuh pelajaran ini, kami mendapati bahwa seorang wanita shalihah yang senantiasa memperhatikan kebaikan rumah tangganya, maka dialah wanita yang Nabi SAW. Berwasiat pada kaum laki-laki untuk memilih sebagai pasangan hidup. Meninggalkan orientasi harta, kecantikan dan kedudukan.
Maka benarlah ketika Rasulullah SAW. bersabda, “seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka carilah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari).
Nabi SAW. bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah” (HR. Muslim)
Selamat atasnya ibu anak tersebut) yang telah menjamin masa depan anak-anaknya dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pemberi syafa’at kepada mereka kelak di hari kiamat.
Nabi SAW. bersabda,”Akan dikatakan kepada orang yang hafal Al-Qur’an pada hari kiamat, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dalam kehidupan dunia, karena sesungguhnya tempat kembalimu dalam kehidupan akhir adalah sesuai dengan ayat yang dahulu engkau baca” (HR. Ibnu Hibban).
Tentunya risalah ini juga untuk para bapak. Bayangkan wahai para bapak, jika anda menjadikan anak anda hafal Al-Qur’an. Setiap kali ia membaca satu huruf, anda akan mendapatkan pahala setiap huruf yang ia baca dari Al-Qur’an dalam hidupnya. Maka jadilah anda dengan menjaga anak anda untuk menghafalnya dengan pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala.
SISTEMATIKA RENCANA KERJA (RENJA) SKPD
SISTEMATIKA
Rancangan RENJA RKPD TAHUN 2014
(sesuai
PERMENDAGRI 54 Tahun 2010):
BAB.
I. PENDAHULUAN.
1.1.
Latar
Belakang.
1.2.
Landasan
Hukum
1.3.
Maksud
dan Tujuan.
1.4.
Sistematika
Penulisan
BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RENJA SKPD TAHUN LALU
2.1.
Evaluasi Pelaksanaan RenjaSKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra SKPD.
2.2. Analisis Kinerja Pelayanan SKPD.
2.3. Isu-isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan
Fungsi SKPD.
2.4. Review terhadap Rancangan Awal RKPD.
2.5. Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan
Masyarakat.
BAB
III. TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN.
3.1. Telaahan terhadap Kebijakan Nasional
3.2. Tujuan dan sasaran Renja SKPD.
3.3. Program dan Kegiatan.
BAB IV. P E N U T U P.
ARAH KEBIJAKAN DAN ISU STRATEGIS NASIONAL
Dalam RPJMN 2015-2019
Meliputi
9 bidang yaitu :
1.
Sosial
budaya dan kehidupan beragama,
2.
Ekonomi,
3.
Iptek,
4.
Sarana
dan Prasarana,
5.
Politik,
Hankam,
6.
Hukum
dan Aparatur,
7.
Wilayah
dan Tata Ruang,
8.
Sumber
Daya Alam, dan
9.
Lingkungan
Hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)
